Travel Digital Milenial

Belakangan ini kita kerap diramaikan dengan wisatawan milenial. Selama sepuluh taun kedepan Wisatawan Milenial yaitu remaja tahun kelahiran 1980 samapai tahun 2000 akan memasuki puncak kedewasaan mereka dalam berpenghasilan dan menghabiskan akhir tahun kejayaan mereka. Kedewasaan mereka tentunya diharapkan dapat mendorong gelombang konsumen pada umumnya dan pertumbuhan pariwisata pada khususnya.
Pariwisata milenial atau disini disebut saja The Millennial adalah jenis konsumen yang berbeda dari boomer dan Gen-Xers. Tidak seperti mereka, The Millennial Traveller ini hidup pada tatanan social yang selalu berubah-ubah. Generasi ini merupakan penduduk asli digital dan mungkin bisa dikatakan generasi global pertama yang sesungguhnya disatukan oleh internet berkat adanya gobalisasi.
Generasi milenial lebih berkeinginan untuk membuat sesuatu yang berdasarkan kemampuan dan keahlian mereka guna membuat perubahan. Mereka akan menempatkan hobi dan karir mereka pada prioritas tertingginya. Sedangkan untuk pembelian jangka panjang seperti rumah dan mobil akan ditempatkan pada posisi terendah berdasarkan prioritasnya. Mereka menganggap nilai uang tersebut dapat digunakan untuk kehidupan pribadi mereka, tentunya karena mereka belum memiliki keluarga untuk mereka nafkahi.
Akan tetapi peningkatkan globalisasi dan konektifitas internet yang 24 jam dalam sehari juga membawa keinginan mereka untuk membeli sesuatu yang baru. Mereka adalah konsumen yang berpendidikan yang mau menghabiskan waktu dan pengetahuan yang mereka miliki untuk mecari tahu mengenai sesuatu yang mereka inginkan atau butuhkan dengan pola pikir yang kritis sebelum melakukan pembelian. Mereka sangat mementingkan untuk individualitas dan ekspresi diri dengan sering membagikan pendapat mereka melalui internet, khususnya pada situs media social yang mereka miliki. Terlebih lagi, mereka terus menerus mencari informasi yang otentik dari mulut ke mulut bukan hanya dari keluarga maupun teman, tetapi juga dari ulasan ulasan yang terpercaya dan blogger anonim.
Hasil studi Singapore Tourism Board menyatakan bahwa wisatawan milenial lebih suka mencari pengalaman baru, unik, otentik dan personal. Mereka sangat percaya pada ulasan-ulasan wisata terutama pada media sosial. Pada poin inilah wisata berbasis masyarakat bertemu dengan tren pasar. Desain wisata yang mengedepankan keintiman interaksi masyarakat desa dengan para wisatawan serta keunikan desa menjadi daya tarik bagi wisatawan milenial. Masih menurut Singapore Tourism Board, wisatawan milenial Indonesia mudah terpengaruh oleh pengalaman orang lain. Media social-lah yang menjadi media saling mempengaruhi tersebut. Selain media sosial, forum-forum di internet dan situs review wisata menjadi rujukan bagi mereka untuk berkunjung ke sebuah tempat wisata.
Generasi milenial adalah konsumen wisata yang sangat potensial. Selain jumlah yang besar, karakter mereka secara tidak langsung sangat mendukung proses promosi. Karenanya, pengelola wisata dituntut untuk mengikuti keinginan dan harapan mereka. Jika tidak, tentu mereka akan mengabaikan wisata kita. Secara berurutan, generasi milenial paling banyak menggunakan media sosial youtube, facebook dan instagram. Pegiat wisata berbasis masyarakat harus mempelajari karakter dari ketiga media sosial tersebut. Secara teknis, perlu riset media sosial untuk mendapatkan hati para generasi milenial. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari kata kunci yang berhubungan dengan wisata yang sedang kita kembangkan. Setelah itu perlu mencari akun atau orang-orang yang tertarik dengan karakter wisata yang sedang dikembangkan. Terakhir, mengunggah foto atau video terbaik dengan menyertakan kata kunci dan menandai (tag) orang-orang sehuingga saat orang lain membuka aplikasi tentu akan menjadi prioritas tampilan dalam halaman awal.
Saat ini seperti yang sudah kita ketahui terajdi perubahan ekonomi. Perubahan tersebut berimbas terhadap perubahan perilaku berwisata, dari hanya menikmati waktu senggang dengan kumpul-kumpul bersama teman atau keluarga yang biasa disebut dengan wisata sun, sand, and sea, berubah menjadi mencari pengalaman (experiences) dengan unsur ingin mendapatkan pengakuan karena pernah mengunjungi tempat-tempat yang lagi hits pada masanya. Perubahan perilaku berwisata tersebut menurut saya disebabkan oleh kebanyakan manusia sekarang ini yang sudah addicted terhadap gadget terutama smartphone yang sudah menjadi kebutuhan pokok diluar sandang, pangan dan papan. Mereka tidak bisa atau sulit untuk hidup sehari tanpa gadgetnya. Mereka sering kali bahkan tidak memperhatikan sekelilingnya saat sedang focus bermain gadget.
Dari hal tersebut juga memperlihatkan bahwa kecemasan juga sudah berubah, dari mencemaskan pengorbanan untuk mengunjungi destinasi wisata menjadi mencemaskan kalau unggahan dalam social medianya tidak mendapat gambar hati oleh follower atau fans-nya. Bahkan mereka akan sangat cemas apabila pengikut social medianya berkurang entah karena suatu hal.
Generasi Digital milenial sangat juga sangat senang mengabadikan hal hal aneh yang ada disekelilingnya saat mereka sedang melakukan perjalanan wisata ataupun sedang sekedar melepaskna penatnya di suatu tempat yang mereka sukai. Terkadang hal ini membuat penyebaran informasi tentang apapun menjadi lebih cepat tersebar didunai maya.
Hal inilah yang menjadi perbedaan yang begitu signifikan antara traveller terdahulu dengan generasi mileal saat ini. Namun semua hal akan selalu ada pro dan kontra di dalmanya. Sehingga sebaiknya kita mengambil hal-hal positif yang diberikan oleh generasi milenial dan mengesampingkan hal-hal yang sekiranya tidak baik untuk ditiru.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started